DAPUR TEATER PONTIANAK...Sekreatriat: Jl. Parit Haji Husin II Komp. Alex Griya III Blok D No. 22 Pontianak, Telp. 081522604000 Joseph Odillo Oendoen, S.Sn.

Kamis, 18 Februari 2010

PASUNGAN MALAM PURNAMA



Naskah : BEBEN BENJAMIN

PADA RUANG BAWAH TANAH KUMUH PADA SEBUAH RUMAH...BEBERAPA SAMPAH BERSERAKAN, JUGA TUMPUKAN KARDUS. SEORANG PEREMPUAN TERPASUNG.......TUBUHNYA JUGA KUMUH. BAU AMIS BERCAMPUR DENGAN UDARA PENGAB. SEORANG PRIA PARUH BAYA TERMENUNG TAK JAUH DARINYA. KEDUA KAKINYA JUGA TERPASUNG.......

RANDU : Entah masih siang ataukah sudah sore...Q.musik....Kita tidak pernah tahu pasti. Ruangan bawah tanah ini benar-benar memisahkan kita dengan dunia luar.....Sinar mentari sudah susut atau belum, aku tidak tahu.....Tapi.....Apakah kau tidak merasa gerah.....?? (PAUSE, SEAKAN MENANTI JAWABAN) Kau masih diam.....? Kuperhatikan belakangan ini kau selalu diam, Inai......Bicaralah.....Inai.....Inai...........

INAI : (MENGERANG KUAT, KESAL) Hoaaaaagghhh..........

RANDU : Percuma kau teriak.....Percuma kau mengerang.....Pasungan itu tak akan terbuka. Buang-buang tenaga saja...bersikaplah wajar.....hanya itu yang akan melepaskan jiwamu Inai....Kita tidak bisa berbuat apa-apa.....Bahkan mungkin, orang-orang diluar sana yang memihak kitapun hanya bisa diam.....Semuanya tak bisa berbuat apapun.....Aku yakin tak akan ada yang berani melawan Sampe......

INAI : Hoaaaaghhhhh........Sampeee keparaaattttt fine

RANDU : Diamlah Inai.......Diam........!!!

INAI : Sekarang kau menyuruhku diam.

RANDU : Aku menyuruhmu bicara, bukan berteriak.........!!!

INAI : Kenapa?? Kau takut?? Aku tidak akan pernah takut dengan Sampe. Biar saja ia puas menyiksaku. Tapi hati dan pendirianku sedikitpun tak akan bergeming.......

RANDU : Tapi bagaimana kalau malah anakmu yang celaka??

INAI : Anakku........??? Sampe mencelakai anakku........??

RANDU : Kau tahu, Sampe akan melakukan apapun, bahkan orang yang tidak bersalah sekalipun akan dihancurkannya selama masih berhubungan dengan kita.....Apalagi punya hubungan darah.........

INAI : (TIBA-TIBA MENANGIS) fade in

RANDU : Kau menangisi anakmu?? Atau.......

INAI : Aku tidak menangis untuk anakku, tidak untuk siapa-siapa. Juga tidak akan kutangisi penderitaanku......Aku menangisi kebodohan orang-orang yang telah memerangkap kebebasan kita. Orang-orang tolol yang memberikan hukuman pada kita berdua........

RANDU : Hukumaaaan...?? Apa ini hukuman...?? Wajarkah ini.....?? Hukuman adalah talak yang dijatuhkan pada orang yang bersalah.....Apa kita pantas dihukum sebagai orang yang tidak bersalah.....?? Pada tuduhan yang tak pernah kita lakukan? Ini bukan hukuman Inai. Tapi ini adalah cobaan. Dan kita harus kuat menjalani cobaan itu...........

INAI : Apapun itu namanya, Randu.....Hukuman atau cobaan, semua sama saja. Kita terpasung di sini......Ketika mereka meneriakan fitnahan kepada kita, dan menjatuhkan talak bahwa kita harus dipasung.......Saat itu juga, jiwaku terpasung pada kegelapan......Aku seperti menerima laknat atas kutukan........Dan suatu saat akan kubalas laknat ini berkali-kali lipat.......

RANDU : Kapan.....?? Kapan suatu saat itu...??? Hampir tiga bulan kita di sini. Dalam kamar sempit.....Dengan kedua kaki terpasung......Kita dalam pasungan, Inai!!!

INAI : Aku tahu.....Tapi aku yakin, balasan itu akan datang.......

RANDU : Kau bermimpi.......

INAI : Aku tidak bermimpi…Randu, kapan bulan purnama tiba.....?

RANDU : Bulan purnama.......???

INAI : Ya......Bulan purnama…Bulan bulat penuh…Saat batas janjiku kepada Sampe........fade out

RANDU : Tidak,............Inai jangan pernah kau laksanakan janjimu......Biarlah bulan purnama datang, biar saat janjimu pada Sampe tiba....Saat itu juga aku akan melindungimu.....

INAI : Melindungiku.....??? Ha.....Ha.....Ha.....Kau sendiri bilang, kita terpasung.Apa pasunganmu itu menyatu dengan kakimu sehingga kau yakin bisa melangkah...??? Kau yakin bisa melindungiku...??? Ha ha ha Randu...Randuuu...Ha..ha ...ha.....Tenanglah Randu.....Suatu saat pasti datang orang yang akan membebaskan kita.....Lalu akan kubuat pembalasan yang lebih menderita lagi.....Biar mereka merasakan siksa yang tidak pernah kubayangkan ini

RANDU : Siapa yang akan membebaskan kita? Si Ulai, anakmu?? Atau Umang Kelik?? Atau siapa? Siapa Inai...?? Mereka memang bebas di luar sana......Tapi kemerdekaan mereka juga terpasung.....Kau tahu, apa yang dilakukan Sampe di luar sana?? Terakhir kali anakmu ke sini ia sudah berkeluh kesah tentang harga barang-barang yang dinaikkan. Sampe secara gegabah menaikan harga barang, bahkan ia berani menggunakan dana bantuan untuk warga kampong demi kepentingan dirinya sendiri. Sampe membuat peraturan yang merugikan warga Kampung, Inai. Sampe berbuat sewenang-wenang dengan bertamengkan bahwa dia adalah kepala desa, dia adalah penguasa desa......Hingga akhirnya warga kampung ini semakin hidup dalam kemiskinan, sementara Sampe bergelimang harta.......Mereka semua menderita, Inai......Bagaimana mereka sempat memikirkan kita??

INAI : Aku tidak peduliiii....streshing....Aku tidak peduli. Mungkin saja mereka membebaskan kita, atau...atau.....saat aku mati disini.....Akan kutinggalkan jasadku......Akan kubiarkan menjadi tulang belulang......Tapi rohku akan mengembara ......Rohku akan terbang ke setiap penjuru.......

RANDU : Kemana …??

INAI : Kemana angin dendam membawaku.......Akan kutikamkan pisau dendamku

ke dada dada mereka......Akan kucampurkan dengan racun yang paling membuat mereka lebih menderita..........

RANDU : Itu lebih kejam, Inai.......Biarlah kita terpasung, tapi jangan biarkan api dendam membakarmu.........

INAI : Ini bukan dendam Randu......Ini pembalasan yang adil.......

RANDU : Dimana keadilan...?? Dimana...??? Tidak pernah ada keadilan dalam dendam. Kau telah dirayu setan, Inai......

INAI : Merekalah setan itu, Randu......

RANDU : Tapi kau jangan menjadi setan.......

INAI : Merekalah yang membuat aku menjadi setan......Merekalah yang telah menghancurkan harga diriku, mencabik-cabik kebebasanku. Lantas apa aku salah jika aku mewujudkan keinginan mereka untuk melihat setan yang lebih menyeramkan lagi.......??

RANDU : Kau manusia, Inai.......Kau bukan setan...........

INAI : Aku setan.........Akulah setan ituuuuu.......Aku bukan lagi manusia … Tidak ada manusia yang terpasung seperti aku. Tidak ada manusia yang terpasung Randu...Manusia selalu bebas. Tapi aku terpasung...Aku tak punya kebebasan. Akulah setaanAku setaannn ituuuu............(TERISAK LAGI)

TIBA-TIBA DATANG SESEORANG, TERGESA

ULAI : Bunda........Bundaaa.........Ini aku.......Ulaiiii........

INAI : Ulai.........?? (BERBISIK)

ULAI : Bunda..........Bunda............

RANDU : Dengan siapa kau datang, Ulai.........?? Tidakkah orang kampung melihatmu?

ULAI : Mereka sedang sibuk dengan persiapan pesta kampung, paman..........

RANDU : Pesta kampung..........???

ULAI : Panen baru saja selesai, Paman. Seperti biasa malam ini mereka akan merayakan pesta panen. Mereka terlalu sibuk untuk mengamati Ulai......Tadi Ulai melintasi kebun Pak Umar, lalu Ulai masuk lewat pintu belakang yang sudah bobrok..........

INAI : Lagi-lagi mereka berpesta........Mereka bersuka di saat kita menderita.

RANDU : Dulu kita masih bisa menikmati pesta panen itu, Inai... (Q.musik)...Kau ingat, suatu saat kau tampil bernyanyi, semua mata memandangmu penuh kagum. Segala telinga tak hendak memasukan suara lain ke dalamnya. Hanya alunan suaramu, Inai......Alunan suara yang merdu, di bawah terang bulan bulat purnama.........

INAI : (TERKIKIK KECIL) Aku ingat, Randu...Sangat ingat...Bahkan mata kepala Kampung jahanam itu, tak berkedip memandangku.....Tapi, kau tahu Randu.....Alunan suaraku mengalir karena iringan tetabuhan dan gitar sapek yang kau pimpin sangat harmoni.............

RANDU : Ha ha ha.........Kau selalu memujiku, Inai..........

INAI : Tidak, Randu.......Aku tidak sekedar memuji............Itulah kenyataan. Kau adalah seorang pimpinan orkes yang sangat hebat. Seperti kata orang-orang kota.....Kau musisi Jenius .......Brilian.........

RANDU : Kau juga.......Kau juga, Inai......Kau adalah seorang biduanita...Seorang Diva yang bersuara aduhai......walaupun .......Walaupun............

INAI : Walaupun apa, Randu..........??

RANDU : Walaupunnnnn..........

INAI/RANDU : Walaupun kita hanya kelas kampung......Ha...ha...ha... fine

ULAI : Ahhh sudahlah.....Paman dan Bunda adalah seniman-seniman yang hebat walaupun hanya di kampung kita........

RANDU : Ah, Ulai......Kami hampir saja melupakanmu.........

INAI : Ulai......apa yang membuatmu datang kemari sekarang? Apa sudah malam??

ULAI : Bunda.......Ulai hanya ingin menyampaikan titipan dari Umang Kelik........Katanya, semua yang Bunda pesankan ada di dalam bungkusan ini, Ulai juga tidak mengerti.......Tapi, menurut Umang Kelik, malam ini Bunda harus bersiap.........

RANDU : Umang Kelik......Bungkusan.......?? Bersiap......???? fade in

INAI : Ha...ha...ha...Randu Randu.....Kenapa kau harus terkejut??

Bukankah Malam ini malam bulan purnama.....Batas janjiku kepada Sampe.............

RANDU : Tapi aku tidak mau melibatkan orang lain, Inai....Kau tahu, Umang Kelik sangat baik hati. Dialah satu-satunya yang mengerti keadaan kita....Ketika malam itu....Saat si Sampe, Kepala Kampung itu menuduh kita berzinah, Umang Kelik lah yang membela kita habis-habisan......Karena dia tahu, malam itu aku sedang menemanimu pergi dan membantumu mengobati Mak Zaedah.............

INAI : Sampe si kepala Kampung jahanam itu memang sudah lama memendam rasa suka kepadaku. Tapi aku tak pernah bergeming sedikitpun. Bagiku dia tak lebih dari laki-laki bejat yang tak layak dijadikan teman, apalagi sebagai pengganti suamiku.............

RANDU : Aku tahu, Inai, sejak kematian suamimu, hidupmu sangat berat.(Q.musik sampe’ dan suling ilustrasi) Tapi aku tahu soal kesetiaanmu kepada mendiang suamimu sangat kental. Tak kan ada seorang priapun yang mampu mencairkannya.

INAI : Dan si Sampe itu ingin merebut cinta suamiku yang telah tiada.......Aku menolaknya mentah-mentah, tapi ternyata ia tidak terima. Terlalu sering ia merayuku......Melemparkan cinta gombalnya padaku.....Tapi semakin lama aku semakin mendidih dengan sikapnya. Aku semakin muak......Lalu saat malam itu Umang Kelik memberi khabar bahwa Mak Zaedah sakit keras, aku memutuskan untuk membantu mengobatinya, karena di Kampung ini tidak pernah ada bidan, mantri apalagi dokter. Apakah Kampung ini terlalu jauh untuk disentuh penguasa, aku juga tidak mengerti. Yang aku mengerti, di malam itu aku berniat pergi ke rumah Mak Zaedah, dan aku terpaksa memintamu untuk menemaniku, karena malam itu si Ulai tengah demam tinggi ......Dan ternyata itulah malam laknat bagi kita. Kepergian kita ke rumah Mak Zaedah telah diketahui Sampe......Dan ia telah menyiapkan perangkapnya.......Ia bersama antek-anteknya menuduh kita baru saja pulang dari berzinah, kita dituduh telah berbuat mesum....Tuduhan yang pahit....Lalu dengan semena mena ia memasung kita berdua di gudang bawah tanah rumah tua ini..........fade out

RANDU : Sudahlah, Inai......Hampir genap tiga bulan kita terpasung di sini. Apa Isi bungkusan dari Umang Kelik itu.......??

ULAI : Entahlah, Paman. Hanya Bunda yang tahu........

RANDU : Inai.........

TIBA – TIBA TERDENGAR LANGKAH KAKI DAN SUARA ORANG BERCAKAP. RANDU, INAI, DAN ULAI KETAKUTAN, CEMAS

INAI : Sssttt......Ada yang datang.........

RANDU : Cepat sembunyi Ulai.......Cepat.......

ULAI : Ahh ohh.......dimana, Paman.......Bunda..........??

RANDU : Cepatlaaahhh.......ke kardus-kardus itu.......Cepat...........

OFF VOICE (musik mengecil)

DOMDOM : Lihat Tuan.....Lookk.....Seperti yang saya bilang, kunci rumah ini sudah saya ganti yang baru....lebih kuat .....Good.......Good............Good......

SAMPE : Hebattt kau.....hebat.......Bagaimana Tahananku........???

DOMDOM : Nanti akan saya jenguk Tuan.......

SAMPE : Pastikan ia sehat......dan bersih......Karena Malam ini Bulan Purnama

DOMDOM : Honey Moon........Ha ha.........

SAMPE : Malaaam Bulannnn Purnamaaaa......Ha.....Ha......Ha....... (MENJAUH)

DOMDOM : Honey moon....Honey Moon.....(BERNYANYI BERULANG)

Suara musik semakin keras dan cepat..........fine

OFF VOICE STOP …. SUARA MENJAUH …. RANDU DAN INAI AGAK TEGANG.

ULAI : Apakah mereka sudah pergi Paman?? Bunda ???............ (PAUSE.....DIAM HENING....) Bundaaaaa.......(RANDU DAN INAI BERPANDANGAN)

RANDU : Keluarlah Ulai............

INAI : Ulai.....Pulanglah kau.....Bunda tak ingin kau ketahuan.......

ULAI : Sebentar Bunda......Ini ada sedikit makanan dari Mak Zaedah dan juga dari Umang Kelik.......Makanlah.......Lihat Bunda … ini ada pacri nenas kesukaan Bunda.......Serta ikan asin......dan ini ada sayur nangka kesukaan Paman Randu, serta lihat....ini dari Gagas....Kue Talam....Ayo Bunda, Paman.......Makanlah.............

RANDU : Gagas??.......Gagas gadis bisu anak Pak Yusuf??

ULAI : Benar, Paman....Tapi biarpun bisu....Gagas adalah gadis yang cantik, pintar, baik hati....

RANDU : Yang lebih penting adalah.....Gagas itu gadis yang sholihah

ULAI : Benar, Paman......Gagas itu cantik luar dalam......

INAI : Kau mencintai Gagas, Ulai.......??

ULAI : Ahhh Bunda.......Ulai.......Ulai........

RANDU : Apa yang kau takutkan Ulai...?? Mencintai gadis yang baik dan sholihah adalah suatu hal yang mulia.......Paman mendukungmu.............

ULAI : Tapi, Paman................

INAI : Kau takut seperti Bunda, Ulai??? Ketahuilah Ulai.....Bunda dan Paman Randumu ini tidak pernah menaruh hati dalam cinta kasih. Kecuali karena kasih pertemanan kami. Bunda dan Pamanmu ini sudah berteman sejak lama.......Jauh sebelum Bunda menikah dengan almarhum ayahmu.......

RANDU : Benar, Ulai........Paman suka musik, dan Bundamu suka bernyanyi.....Ikatan seni kamilah yang membuat kami bersatu, tapi bukan untuk berumah tangga, apalagi berzinah seperti yang dituduhkan kepala Kampung..........

ULAI : Pamaannn......Bundaaa........Ulai........Ulai.........

fade in sampe’ ilustrasi

INAI : Apa kau malu karena Bunda seperti ini Ulai?? Apa kau berfikir bahwa benar kami berzinah, Ulai......?? Demi Alllah ......Ulaiiii........Bunda tidak pernah menyentuh Zinah atau mendekatinya, sejak ayahmu wafat.........

ULAI : Bunda........Ulai tidak pernah berpikir seperti itu........Ulai tahu ini semua adalah perbuatan kepala Kampung. Ulai tetap menghormati Bunda......Ulai tetap menghormati paman. Hanya saja.......

RANDU : Hanya saja apa Ulai...........???

ULAI : Gagas.......Gagas......Gagas telah dilarang untuk bergaul dengan Ulai.......

RANDU : Tidak mungkin Pak Yusuf akan seperti itu selama kalian bergaul dalam batas yang wajar...........

ULAI : Kami bergaul dalam kewajaran, Paman...........

RANDU : Jadi siapa yang melarang..........???

ULAI : Pak Sampe, kepala Kampung...........

INAI : Sampppeee..........Lagi-lagi Sampe...........

ULAI : Kalau Ulai dan Gagas masih bersama....Maka.....Maka....Ulai dan Gagas akan dikubur sebatas leher di puncak bukit........

INAI : Sampe jahanaaammmmm...Keparaaatttt kauuuu...streshing

RANDU : Inaiiii..............

INAI : Akan kubunuh kau Sampe.......kusumpah kauuuuu..........

RANDU : Diamlahhh Inai........Teriakanmu hanya akan memancing mereka datang kemari. Dan Ulai akan terkena akibatnya......

INAI : Ulai......Pulanglah......Bunda merestui kau dengan Gagas .......Katakan kepada Umang Kelik.....Malam Bulan Purnama akan datang menagih janji Bunda.....Dan Bunda sudah siap.................

ULAI : Bundaaa ...........

RANDU : Pulanglah Ulai......Dan sampaikan juga kepada Umang Kelik, bawakan titipanku, si Angger..........malam ini............

INAI : Angger.......?? Angggeerr.......?? Randu.......Kauuu.........

RANDU : Pulanglah Ulai..................

ULAI BERGEGAS PULANG. TINGGALLAH RANDU DAN INAI. INAI KEMUDIAN BERNYANYI KECIL, SEDIH...........SESAAT RANDU MENGIRINGI DENGAN ALUNAN MUSIK DARI TEPUKAN DAN KETUKANNYA DILANTAI. KEDUANYA SEAKAN LARUT DALAM KENANGAN MASA LALU. KEMUDIAN RANDU BERHENTI, LALU INAI MENYUSUL BERHENTI. KEDUANYA DIAM MEMBISU. HANYA ADA KESEPIAN................

RANDU : Inai.....Pernahkah kau berfikir hidupmu akan seperti ini?? Aku tahu kau senantiasa berbahagia saat menyanyi di depan penonton. Dan kebahagiaanmu kian lengkap saat kau mendapatkan pria yang baik sebagai suamimu......Terlebih ketika kalian dikaruniai Ulai, putra semata wayangmu........

INAI : Tapi kebahagiaan itu sudah tak berbekas lagi, Randu....... Hanya dendam yang tersisa di hatiku.............

RANDU : Sesungguhnya...................tidaklah bagus dendam itu, Inai...............Sangatlah tidak beralasan bagi manusia untuk hidup berlandaskan dendam. Manusia dilahirkan dengan fitrah, dan adalah keharusan manusia untuk mengarungi hidup dengan fitrah dan kembali dengan fitrah juga. Tapi...... Saat angkara datang........Akhhh..........Inai...........Aku sesuangguhnya tidak akan pernah mau membiarkan jiwamu hanyut dalam arus dendam........Tapi kini aku tahu, tidak selamanya amarah itu adalah dendam.........Ketika angkara semakin meraja lela, tidak ada salahnya kita menyalakan amarah untuk memberantasnya.........Aku tidak akan pernah lupa ketika Sampe menghasut warga Kampung dengan menuduh kita berbuat mesum........Lalu dengan alasan agar tidak menularkan penyakit ini, ia memerintahkan agar kita di pasung.......Kau tahu apa yang membuatku menderita??

INAI : Penderitaan pasungan kita sama, Randu...............fine......

RANDU : Sebagai manusia kita memang tak pernah lepas dari penderitaan Sebagai manusia, kita menderita karena dipasung........Sebagai warga kampung, kita menderita karena tekanan sang pemimpin, kepala desa keparat itu.......Tapi.......Penderitaanku yang terdalam adalah melihat kau, seorang wanita yang harus terpasung, sementara putramu, Ulai, masih membutuhkanmu.

INAI : Ulai sudah besar, Randu, dan dia sudah cukup mampu mencerna penderitaan ibunya............

RANDU : Aku sudah tidak ada yang menanti, Inai. Istri dan anakku sudah lama meninggalkanku........Paling yang menantiku adalah liang lahat...........

INAI : Tinggal hitungan jam, Randuuu...........

RANDU : Malam ini kita sama-sama memenuhi janji........Kau dengan janjimu kepada Sampe........Dan aku telah berjanji pada diriku sendiri........Kan kutemani kau Menemui pengadilan akhirat.............

INAI : Randuuu...........Kauuu...............

RANDU : Dinan, suamimu, adalah sahabatku, Inai. Dia sahabat terbaikku.........Kau tahu itu. Saat yang paling bahagia buatku adalah saat sahabatku itu menemui cinta sejatinya. Dan adalah tugasku menemani cinta sejatinya menemui sahabatku di alam sana..........Akan kutantang maut malam ini, Inai................

INAI : Randuuu...............fade out

INAI TERISAK LIRIH.........RANDU BERNYANYI KECIL..........LAGU......LAGU LAMA KENANGAN MEREKA BERDUA...........

DOMDOM : (DARI JAUH MENDEKAT) Haiiii........Manusia rendah dalam pasungannnn............I’m coming..........

RANDU : Pasukan kutu busuk itu telah datang lagi............

DOMDOM : He...He...he....Whatever you say........Terserah apa katamu, Randu. Aku tak akan marah.......Karena kau telah terpasung............

INAI : (MELUDAH) Ciiih.........Puihhh............

DOMDOM : Ohhhh air ludah dari janda yang sexy.......But......itu dulu he he he........Sekarang kau Cuma perempuan busuk puihhh (MELUDAH INAI)

INAI : Air ludahmu lebih busuk lagi.......Tapi tak lama lagi aku ingin merasakan darahmu..........

DOMDOM : Whattt......??? Vampire......Vampire.......Apa kau akan menjadi Vampir Miss Inai yang mulia he he he...??? Ternyata penderitaan membuat jiwamu berguncang, seperti kapal yang akan karam....Kandas......das.......das.......Kau tahu apa yang paling kubenci di dunia ini Miss Inai penuh birahi...??? Oh oh oh.......When I see You......I Hate Youuuu...Aku sangat benci ketika melihat bibir manismu dipuja tuanku … Aku sangat muak melihat mukamu......Miss Inaiiiii....Rasanya ingin kusayat kulit wajahmu kalau saja Tuanku tidak menunggu janji malam purnama......Janji di atas pasungan he.....he........he.....Honey moon......honey moon (BERNYANYI NYANYI, AGAK STRESS) fine

RANDU : Siksaan apalagi yang akan kau beri kali ini.........??

DOMDOM : What....?? he he he....ya ya ya.....I’m forget........I’m forget menyeret-nyeret hingga kalian mengkeret....ha.....ha....nyaris kelupaan...Aku membawakan makanan kesukaan kalian.... lihat....Daging tikus rebusssss....Daradaaammmmm....He he he..........

RANDU : Tidak ada yang lebih busuk lagi...........???

DOMDOM : Oww yesss.........Tenang saja.......Tikus ini sudah mati selama tiga hari. Kau tahu, bambam menangkap tikus ini di selokan busuk.......kemudian mengencinginya seperti mengencingi kalian berdua. Lalu tikus ini dihantam dengan balok kayu dan setelah tiga hari, dia merebusnya dengan kaldu.....Kaldu apa?? Kaldu kotoran sapi.....hoekkkhh....??? Kalian akan muntah??

RANDU : Cuma senyum kami untuk ceritamu....Sangat nikmaattt......

INAI : Pasungan ini kalah nikmatnya dengan daging tikusmu......

DOMDOM : Hebaatttt....Hebatttt.....Berarti, aku harus lebih berkreasi lagi dengan makanan kalian....Atau aku undang sekalian juru masak hebat untuk mencari bangkai-bangkai tikus....Ohhhh lezat sekali.....Its delicious......Mak Nyooosss .........Atau kupanggil saja Rudy Choirudin atau Om Bondan kemari?? He he he he.............

RANDU : Terserah kaulah Domdom..........

DOMDOM : Whatss.....?? Shut upppp......Mr. Domdom....Atau Tuan Domdom........................Jangan kau panggil aku Domdom. Seettttaaaaannnnnn........Sialaannnnnnn...............................(MEMUKULI RANDU)

INAI : (TERTAWA) Ha.....ha.....Ha.....Domdom.......Domdommmm

DOMDOM : Shutttt Uuuuuupppp.....Perempuan setan,....Kugunduli kau .......kugunduli kauuuuu.........(MENERJANG KE ARAH INAI)

INAI DAN RANDU TIDAK MENGERAN....KEDUANYA TERTAWA....SEKETIKA DOMDOM BERDIRI, TERDIAM.........KETAKUTAN..........

DOMDOM : Kalian gila......crazzyyyy.......Kalian gila.....Mr. Domdom tidak mau berurusan dengan orang gila....Tidaakkkk....Tuannn… Tuan Sampeeee.......Mereka berdua gillaaaa..........

TAWA INAI DAN RANDU KIAN MENINGGI.....SAMPE DATANG TIBA-TIBA.....

SAMPE : Diiiiaaaammmmm....fine.....Ada apa ini.......???

DOMDOM : Tuanku....Kedua binatang pasungan ini sudah gila...Mereka menertawakan domdom, tuan..........

BAMBAM : He he he.......Dasar kau yang penakut, domdom........

DOMDOM : Diaaam kau....Mahluk tak bergunaaa.........

BAMBAM : Iya.......iya.......Bambam kan Cuma bicara.........

DOMDOM : Tapi you, you and you.....and you.....Suka bicara sembarangan.....you know?? Domdom hate youuuu......!!!!

SAMPE : Kamu berisik Domdommmm...........

DOMDOM : Ohhh Tuanku........

SAMPE : Apa yang terjadi, Domdom?? Bukankah kau kuperintahkan untuk memberi mereka makan........???

BAMBAM : Ohhh Tuhannnn....Makanannya sudah hancur Tuan....Lihat .......Berserakan di mana-mana...........

DOMDOM : Diam kau Bambam …… Oh, Tuanku, Tuan Sampe Kepala Kampung terhormat …. Sedianya tadi aku akan memberi kedua binatang ini makan …. Tapi mereka malah menghinaku dan menghancurkan makanannya …

SAMPE : Kalian tak pernah menyerah. Entah setan apa di otak kalian

RANDU : Setan tidak bersemayam di otak kami. Tapi pikiranmulah yang dipenuhi dengan berjuta setan …..

SAMPE : Diam kau Randu... (streshing, fade in katubokng)....Sudah cukup muak aku mendengar musikmu selama ini, jangan kau timpali lagi dengan kata-katamu. Aku bisa muntah, tahu …??? Kau tahu, Randu …. Yang kubenci adalah saat semua mata mengagumi musikmu. Aku muak. aku muuuaakk … Puihhhh …streshing (MELUDAH)

INAI : Kau yang akan membuatku muntah, Sampe …..

SAMPE : Ohhhh …. Miss Inai, penyanyiku yang tercantik ….. Segenap jiwaku bergolak terbalik dengan Randu jahanam itu …. Kau tahu, cantik, aku akan senang menikmati muntahmu …. Apalagi muntah karena belaianku …. Kau tahu Inai … Hanya akulah pria yang tepat untukmu …. Bukan suamimu yang sudah mampus, atau juga si Randu jahanam ini.

INAI : Kauuu ….

SAMPE : Bicaralah sayang...(fade in saron dan timpani)...Bicaralah ….. Kau tahu, Inai ….. Setiap malam aku Cuma membayangkan wajahmu, aku selalu merindukan kehangatan tubuhmu ….. Kubayangkan bayangan sexy tubuhmu memancar di bawah bulan purnama. Kilauan kulitmu memantul indah, melecut birahiku yang terdalam … Lalu kita bergelut bersama … Kita memacu puncak birahi bersama ….. Ohhh dewiku …… aku berharap kau bisa menerimaku biarpun di ruang pengab ini …….. Dan tawaranmu untuk menunggu bulan purnama telah sampai waktunya. Malam ini bulan purnama penuh.

DOMDOM : Ohh Tuan … Tuankan sudah punya istri … The wife ….

SAMPE : Diam kau Domdom … Diam .. diam .. dan dddiiiaammm ……. Kusembelih nanti kau ….. musik rall...fine

DOMDOM : Ohhh I’m sorry sir ……..

SAMPE : Bagaimana Inai ….??

RANDU : Cuma nafsu setan yang ada di otakmu, Sampe ……

SAMPE : Diam kau Randu sang penzinah ….streshing

RANDU + INAI : Kami tidak berzinah ….!!!!

SAMPE : Kalian benar...... (streshing) .........Tapi semua orang Cuma mau menuruti kata-kataku …. He he he … Bagaimana, Inai??? Kebebasan menantimu malam ini......Asalkan …fine

INAI : Aku tahu ……..

SAMPE : Kau siap …??

INAI : Aku siap …….

SAMPE : Siap luar dalam ….???

INAI : Semuanya …….

SAMPE : Semuanya …??

INAI : Ya ….. Semua ……….

RANDU : Inai ….. kau ….

INAI : Malam ini aku siap, Sampe ….. Tubuh ini kan kuserahkan dihadapanmu ..

RANDU : Inaiiii ….. fade in solekng ilustrasi

SAMPE : Tidak salahkah pendengaranku??

INAI : Tapi dengan satu syarat ……. Aku ingin menikmati semuanya dengan kebebasan yang total … Tidak ada lagi pasungan ini …. Juga pasungan di kaki Randu ……

SAMPE : Ohhh penguasa agung …. Akhirnya datang juga malam kenikmatanku

INAI : Aku ingin memeluk tubuhmu, Sampe. Dan aku ingin bergelut denganmu dengan kedua tangan dan kedua kakiku ……..

SAMPE : Ha …. Ha …. Ha …… Baiklah …. Baiklah …. Akan kubebaskan kalian berdua, lalu kita bercinta sepuasnya ……… Kalau perlu si Randu ini juga boleh bergabung dengan kita ha ha ha …….

INAI : Satu lagi, Sampe ….. Aku ingin ada yang menjadi saksi malam ini …… Agar kau tidak mengingkari kebebasanku ………

SAMPE : Oke …. Oke …. Semua kusetujui, asal aku bisa bercinta denganmu ….

INAI : Malam ini anakku akan datang … Biarkan ia melihat kebebasanku walau sekejap ….

SAMPE : Ohhh … Akan kuijinkan si Ulai menjadi saksinya … Karena artinya, ia adalah anakku juga …….

RANDU : Inai …. Kau …..

INAI : Nikmatilah kebebasan kita, Randu …..fade out

SAMPE : Ha ha ha … Kau pintar Inai …. Sangat pintar. Sampe semakin menyukaimu he he he …….. sebentar lagi malam, Inai ….. bersiaplah ….. ha ha ha ………… Domdom …. Bambam …. Kita pergi sekarang …..

BAMBAM : Baik tuanku ……

DOMDOM : Tuanku akan bersenang-senang malam ini ….. he he he ……. Honey moon … honey moon … honey moon ……

BAMBAM + DOMDOM : Honey moon … Honneeeyy mooonnn ….fine

SAMPE, DOMDOM, BAMBAM OUT ……INAI TERMENUNG JAUH, SENYUM TERSIRAT DI WAJAHNYA, SEAKAN TERBAYANG RENCANA-RENCANA INDAH, NAMUN SARAT KESEDIHAN. RANDU MENATAPNYA SEDIH.

RANDU : Inai … kau … kau …..

INAI : Ikuti aku, Randu …..fade in solekng ilustrasi Bukankah kau akan menemaniku?? Bukankah kau tetap menjadi sahabat Dinan, mendiang suamiku tercinta ….???

RANDU : Inai …kau … kau …..

INAI : (BERNYANYI KECIL, LIRIH)

PANGGUNG GELAP PELAHAN ……. TAK LAMA DOMDOM DATANG LAGI MEMBAWA LAMPU TEMPEL.

DOMDOM : Honey moon … Honey moon … he he he … Good Night … Good night ….. Malam telah tiba …. Malam ini malam special, makanya Tuan Sampe meminta Saya, Mr. Domdom, untuk membawakan lampu tempel indah berpita ini …. Katanya untuk malam pengantin …. He … he .. he …. Dan kau Miss Inai, bersiaplah …. Pakailah baju pengantin putih ini … Ini adalah gaun termahal you know ….??? Cepattt … dan akan kudandani engkau

INAI : Biarkan aku menemui pengantinku seperti ini …??

DOMDOM : Whatt …?? Stupid …. Bodoh tolol …. Tuan Sampe akan mengamuk nanti

INAI : Biar ia mengamuk di atas tubuhku …

DOMDOM : Hahh …?? Kau pintaaarrr …. Ha ha …. Honey moon … honey moon … honey moon … Nah nikmatilah malam pengantinmu, Miss Inai … dan berdukalah wahai Randu …. He … he … he …..

LIGHTING FADE IN LAGI, MALAM. SETELAH MELETAKKAN LAMPU, DOMDOM KELUAR.

RANDU : Sudah mulai malam lagi rupanya ….. Kau masih ingin bernyanyi, Inai??

INAI : Mungkin yang tadi adalah lagu terakhirku, Randu ……

ULAI : (OFF, AGAK BERBISIK) Bunda … Bunda … Ini aku, Ulai ……

INAI : Ulai …..?? Kau datang nak …??

ULAI : Iya Bunda … Dan aneh, Domdom tadi sengaja mengundangku untuk datang … Malah Ulai datang bersama ……

RANDU : Apakah itu Umang Kelik bersamamu??

ULAI : Iya, Paman …. Ini Umang Kelik …….

INAI + RANDU : Umang ….. fade in solekng ilustrasi

UMANG : Inai …. Randu ….. Hampir tiga bulan kalian dipasung, dan selama itu pula aku tidak bisa melihat kalian ……… Ma’afkan aku …….

RANDU : Tidak apa, Umang …. Kami tahu tidak ada yang berani melawan Sampe

UMANG : Terlalu banyak yang terjadi di luar sana, kawan …. Separuh waktu kuhabiskan untuk memikirkan kalian ….. Paruh waktu lainnya kupikirkan demi warga kampong. Kalian tahu, apa yang dilakukan Sampe?? Tidak habis-habisnya manusia lupa diri itu mengibarkan panji-panji kekuasaan. Ia mengatur semuanya sesuai dengan keinginannya sendiri.

RANDU : Kalau aku masih di luar sana … Mungkin lagu sedih lah yang akan kuciptakan, lantas kumainkan dengan musikku ……

UMANG : Lagumu akan semakin sedih, Randu...(fade in sape’ ilustrasi)... Sampe menaikkan semua harga barang dengan alasan untuk pajak …. Dan yang lebih celakanya …. Sampe menjejali kantongnya dengan uang milik warga …..

INAI : Sampe merampok …??

UMANG : Tidak inai …. Beberapa waktu yang lalu, ada bantuan dari pihak luar kampung dalam bentuk uang ….. Tunai …. Tapi Sampe tidak pernah menyampaikannya kepada warga kampung yang miskin ini ….. Uang bantuan itu malah ditambahkannya menjadi harta pribadinya ……

INAI : Sampe semakin kaya tentunya …???

UMANG : Tentu saja …. Ketika kami menanyakannya … Sampe dengan angkuh mengatakan, bahwa ini adalah kebijakan penguasa pusat …. Dan bahwa di kampung lain juga sama ….

RANDU : Sama …??

UMANG : Benar, Randu …. Di kampung lain, semua dana bantuan tidak pernah sampai kepada warga kampung. Semua dana bantuan malah menjadi milik orang-orang yang tidak pantas memilikinya.

RANDU : Yang kaya semakin kaya …. Yang miskin kian terpuruk ….

UMANG : Kau benar … Itulah yang terjadi dan aku sudah tidak kuasa lagi melihat ketidak adilan terjadi di depan mataku. Dan akhirnya, aku putuskan mala mini, Aku, Umang Kelik, sahabat kalian berdua, akan rela bersimbah darah, demi keadilan ……

RANDU : Umang ……. Jangan kau korbankan dirimu …..

UMANG : Malam ini aku telah siap melawannya, Randu ….. Aku punya rencana membebaskan kalian, kita akan lari dari kampung ini …..fine

RANDU : Bagaimana dengan teman-teman yang lain?? Apa mereka akan turut serta?

ULAI : Ma’afkan Ulai, Paman ….. Semua tidak berani melawan Sampe.

RANDU : Manusia …. Ternyata keberanian itu hanya dimulut ……

ULAI : Tapi Ulai akan membebaskan Paman dan Bunda …. Juga … Gagas …

RANDU : Gagas ….??? Kau membawa Gagas???

INAI : Ulai ….. Bukankah Bunda mengajarimu untuk melindungi wanita, kenapa Gagas kau bawa kemari …??? Bagaimana dengan ayah ibunya??

GAGAS : Ah uh ah … (BAHASA ISYARAT )

ULAI : Menurut Gagas, kedua orang tuanya sudah tahu dan sudah merestui, Bunda. Malah mereka titip salam kepada Paman dan Bunda ……

GAGAS : Ah uh ah ……

ULAI : Gagas juga ingin berjuang bersama membela kebenaran, karena dia tahu Bunda dan Paman tidak bersalah …….

GAGAS : Ah uh ah ……

INAI : Gagas …. Kau sungguh berhati mulia. Walau fisikmu seperti ini, atpi kau lebih berani, nak ….. kemarilah nak ……………

GAGAS : Ah uh ah ……

GAGAS DAN INAI BERPELUKAN ; SEDIH

UMANG : Semua persiapan barang-barang sudah ada padamu, Inai ….. Dan juga, ini barang yang kau pesan, Randu. Terimalah si Angger ini ….. Tapi, aku tak yakin kau mampu melakukannya ……

RANDU : Aku tahu kakiku lemah karena pasung jahanam ini, Umang. Tapi aku punya tekad sendiri ……..

UMANG : Aku yakin dengan tekadmu. Aku juga sudah siap, Randu. Kita sama-sama berjuang …… Aku sudah cukup menahan rasa selama kalian terpasung. Bayangan dosa selalu menghampiriku. Tapi aku tak berdaya ….. Kalian tahu, Aku dan Zaedah selalu merasa pedih jika mengingat kalian. Saat malam dingin, hanya lantunan do’a yang bisa kupanjatkan ….. Tapi sekarang …. Sekarang ………

INAI : Batalkan semua Umang …….fine

UMANG : Apa maksudmu, Inai …..???Tidakkah kau lihat kalau aku telah siap …. Sangat siap ….. Kalian tahu, apa yang kutakutkan mala mini …?? Aku hanya takut kalau aku tidak bisa menyelamatkan kalian ……….

RANDU : Umang …. Kami yakin dengan tekadmu, aku hargai bantuanmu …..

UMANG : Lantas … ada apa?? Apalagi yang ditunggu???

RANDU : Inai telah punya rencana sendiri, Umang ….. Aku … Aku … Dia …..

UMANG : Ada apa …?? Beritahukanlah padaku ……..

INAI : Ikuti saja, Umang ………

ULAI : Bunda ………..

GAGAS : Ah uh ah …. (MARAH)

UMANG : Gagas pun merasakan amarahnya pada Sampe ……

GAGAS : Ah uh ah …. (SEDIH)

INAI : Kenapa, Gagas …..???

GAGAS : Ah … uh .. ah ……

(GAGAS MENANGIS, IA MENGATAKAN KESEDIHAN HATINYA, FIRASATNYA AKAN KEMATIAN, DAN IA TAK MAU ADA YANG MATI)

GAGAS BERLARI KE ARAH UMANG KELIK, MENGGUNCANG UMANG KELIK SEAKAN MEMAKSANYA MELAKUKAN SESUATU UNTUK MEMBEBASKAN INAI DAN RANDU, KEMUDIAN DENGAN BERSIMBAH AIR MATA GAGAS BERLUTUT MEMELUK LUTUT UMANG KELIK.

UMANG : Gagas …. Umang mengerti perasaanmu …. Berdirilah, nak ...

GAGAS MEMELUK UMANG DAN MENANGIS DI SANA....fine....SEMUA HENING ……

DOMDOM : Haiii …. Good night everybody ….. Tuan Sampe yang terhormat telah datang ……. Dan sebentar lagi …. Honey moon …. Honey moon ..

SAMPE : Wah wah wah ….. Ramai sekali malam ini …. Ternyata kau suka disaksikan orang lain, Inai ……

INAI : Sudah kukatakan, aku perlu saksi, Sampe ……….

SAMPE : Tidak masalah buatku, Tuan Sampe …… Hai hai … Ternyata si buruk

Umang Kelik ada di sini pula, serta anakmu yang kau sayang ini, dan ….. Perempuan ini ….. Siapa dia ….. (MENJAWIL GAGAS)

GAGAS : Ah uh …..

ULAI : Jangan sentuh dia ……streshing

DOMDOM : Ohhh My god ….. Kau berani menegur Tuanku …. Kurang ajar …… (HENDAK MEMUKUL)

SAMPE : Jangan dipukul domdom...fine...Jangan kau rusak malam ini …..

BAMBAM : Tapi dia sudah melawan, tuan. Biarkan bambam memukulnya …..

DOMDOM : Diaaammmm bodohhhh ….. Jangan memukul dan jangan merusak malam pengantin Tuan Sampe ……….

UMANG : Malam pengantin ……??? Apa maksudnya ini ……???

SAMPE : Domdom … Bambam …. Kerjakan ……

DOMDOM + BAMBAM : Siap tuanku ……..

BAMBAM DAN DOMDOM SEGERA MENGELUARKAN TALI, LALU MENERJANG KE ARAH UMANG, ULAI DAN GAGAS. KETIGANYA TERJATUH. DENGAN GAMPANGNYA DOMDOM DAN BAMBAM MENGIKAT UMANG, ULAI, DAN GAGAS.

RANDU : Apa-apaan ini Sampe ….?? Bukankah kau sudah berjanji akan membebaskan semuanya ….????

BAMBAM : Diaaammmm ………fine

SAMPE : Inai …… Malam ini semua akan menjadi saksi kita …… Kau sudah siap? Kau akan kubebaskan sekarang, dan merengkuh cinta kita bersama

RANDU : Jaaangaaannn Inaiiii …..

DOMDOM : Diaammmmm ………

RANDU : Jangan kau dekati Inai, Sampe ….. Buka pasungku dan hadapi aku …

INAI : Kemarilah Sampe … Kan kupenuhi janjiku ….

RANDU : Sampe keparaaatttt …..

DOMDOM : Settttaaannnnnn …….. Diaaaaammm …..

RANDU : Kubuunnuuuhhhh kau Sampee …

(MELEMPARKAN ANGGER, TAPI TERLALU LEMAH)

DOMDOM : Randu sialaaannnnn ….. (MENERJANG RANDU ; MENAHAN RANDU)............fine.................

Fade in solekng ilustrasi (blow effect)

INAI : Pada malam yang kelam ….. di antara bau busuk pengab ruang ini aku berikan sepenggal kisah hidupku ……… Kalian jangan pernah menyalahkan siapapun …. Inilah saatnya kurengkuh jalanku ……. Suamiku ….. Tak kan pernah kuhianati cinta kita ….. Namun saatnya kujalani terjal kehidupan ….. Kemarilah Sampe …….. Saatnya kupenuhi janji padamu ……………… fade out

SAMPE : Ha ha ha …. Akhirnya kau menyerah Inai …. Akhirnya kau menjadi milikku ……. (SAMPE MEMBUKA SELURUH BAJU DAN CELANANYA, HANYA TERTINGGAL CELANA PENDEK TIPIS)

ULAI : Bundaaaaa …. Tiadakah yang bisa kulakukan bundaaaaa ……

DOMDOM : Diaaaaammm jahanam …..streshing (MEMUKUL ULAI)

INAI : Kemarilah Sampe ……

SAMPE : Oh sayangku …………

INAI : Jangan tergesa, Sampe ….. Pelahan …………….

SAMPE : Kau senang diperlakukan pelahan rupanya …….

INAI : Kelembutan adalah bagian diriku, Sampe sayang ……..

RANDU : Inai …. Jangan Inai …… jangaannn … (TERISAK)

UMANG KELIK TERDUDUK DAN TERTUNDUK, GAGAS MENUTUP MATANYA SAMBIL MEMEGANG BAHU ULAI, ULAI MENATAP INAI TERPAKU SEAKAN SHOCK, RANDU TERISAK TAK BERDAYA. DOMDOM DAN BAMBAM TERKEKEH TERTAWA ; LALU MEMALINGKAN WAJAHNYA, MENATAP KE ARAH BELAKANG, SEMENTARA INAI MEMANGGIL-MANGGIL SAMPE. SAMPE BERANJAK MENUJU INAI PENUH NAFSU.

INAI : Kemarilah Sampe sayang … Mendekatlah sayang …….

SAMPE : Oh Inai sayangku …. Akan kugeluti kau ….. (SAMPE SEMAKIN MENDEKAT)

INAI : Kan kuterima tubuhmu, Sampe …..

SAMPE : Kau siap menikmati kehangatanku, Inai manis?? (SAMPE DI DEPAN INAI)

INAI : Akan kuberikan kau kehangatan yang lebih …. Melebihi segalanya ….

SAMPE : Kau telah siap bercinta, sayangku? (SAMPE MENURUNKAN BADANNYA MULAI AKAN MENGANGKANGI INAI)

INAI : Aku telah siap memberikan kau sesuatu yang special …..

SAMPE : Apa itu sayangku ….???

INAI : Cepatlah oh sayaangkuu … Geluti aku …. Basahi aku dengan keringatmu … Dan … Akan kuberi kau …. Malam jahanaaaaammmmmmmmm …… hiahhh.....(Q. rall perkusi dan streshing gong)...........(INAI MENIKAM SAMPE BERTUBI-TUBI DENGAN PISAU DALAM BUNTELAN YANG DIBERIKAN ULAI TADI SIANG ; SAMPE MENJERIT TERKULAI ; DOMDOM DAN BAMBAM SERENTAK MEMANDANG. SEMUA TERPAKU, TAK PERCAYA)

Inilah janjiku di malam purnama Sampe ….. Terima kasih, pisauku ….. Randu …. Inilah isi buntelan Umang Kelik …. Pisau kebebasanku ……

RANDU : Inai .. Kau .. kau …….Ilustrasi solekng

INAI : Pasunganku telah terbuka ….. aku bebas …. Tapi jiwaku terpasung pada satu perangkap …. Aku janda pasungan telah memasung jiwaku pada jiwa pembunuh …….. Ma;afkan aku …. Aku pembunuuuuhhhh …. (INAI MENGANGKAT PISAU YANG BERLUMURAN DARAH ….. SERAYA MENANGIS).......fine..........

DOMDOM : Tiidaaakkkkk …. Tidaaaakkkkkkkk Tuankuuuuuu ………

BAMBAM : Tuannnnnkuuu …..

DOMDOM DAN BAMBAM MENGHAMPIRI MAYAT SAMPE ….. UMANG, ULAI, DAN GAGAS, SIBUK BERUSAHA MELEPASKAN IKATAN ……… DOMDOM TIBA-TIBA BERDIRI HISTERIS ……


DOMDOM : Setttaaaannnnn ….. Sialaaannnnnnn ….. Kubunuh kau …. Kubunuh kau …….. (DOMDOM MENYAMBAR PISAU INAI, MENIKAM INAI DENGAN HISTERIS ; INAI MATI TAK BERSUARA)

RANDU : Innnaaaiiiii …… Jahanam kau Domdom …..

DOMDOM : Diiiaaaammmmm …. (DOMDOM MENGEJAR RANDU DAN

MENIKAMNYA BERKALI-KALI ; RANDU MATI TAK BERSUARA ; UMANG, ULAI, GAGAS SERENTAK BERTERIAK MEMANGGIL RANDU. IKATAN TALI TERLEPAS)

UMANG DAN GAGAS TERKULAI PINGSAN. ULAI TERBENGONG MENANTAP MAYAT DI DEPANNYA.

Ha ha ha .. ha .. ha … Kedua binatang pasungan ini sudah mati ….. dia memang harus mati ….. Ohhhh Tuanku …… Domdom dan Bambam harus kemana …. Ohhh (DOMDOM TERISAK) …… Bambam (MEMELUK BAMBAM) .......fine.......

Fade in ilustrasi Solekng menyayat sedih

DOMDOM : Tuanku mati … Tuanku mati …. Honey moon honey moon honey moon (BERULANG-ULANG SAMBIL TERISAK, DOMDOM DAN BAMBAM BERNYANYI SEDIH LAGU HONEY MOON SAMPAI OUT KELUAR SAMBIL MEMBAWA MAYAT SAMPE)......... fade out .....

TINGGALLAH JASAD INAI DAN RANDU. Fade in perkusi


ULAI : Bundaaa … Pamannn … Bundaaa …. Pamaann …… (PELAHAN, RANDU BERANJAK DAN MEMELUK MAYAT INAI) Sampe keparat …. Kau habiskan uang warga …. Kau putuskan kebebasan warga …. Dan sekarang, kau bunuh wargamu ……….

Selamanya rakyat miskin tertindas penguasa ……

Bundaaa … Bangun bundaaa … bangguunnn …. (MULAI HISTERIS) bangguunn buundaaa … bunndddaaaa … Bunnddddaaaaaaa ……. (MELENGKING HISTERIS) ...fine...

MUSIK PELAHAN MENINGGI …. LAMPU PELAHAN FIDE OUT ………….

0 komentar:

 

dapur teater pontianak Free Blogspot Templates Designed by productive dreams for smashing magazine | | Free Wordpress Templates. Cell Numbers Phone Tracking, Lyrics Song Chords © 2009